Teliti Fenomena Air Laut Dingin (ALaDin) Satu-satunya di Dunia, Dosen FPIK UNDIP Temukan Potensi Wisata Baru di Kab. Alor
UNDIP, Alor (2/7) – Di Perairan Desa Alor Kecil, Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), terdapat fenomena laut yang sangat unik di mana pada waktu-waktu tertentu di bulan Agustus-November, suhu permukaan laut dapat turun hingga mendekati 10°C selama 1-2 jam. Ini merupakan fenomena satu satunya di dunia karena tidak mungkin ditemukan di perairan tropis manapun yang biasanya hangat.
Melalui penelitian sejak tahun 2020, tim peneliti UNDIP yang dipimpin oleh Prof. Dr.Sc. Anindya Wirasatriya, S.T., M.Si., M.Sc. dari Dep. Oseanografi FPIK berhasil menguak fenomena ini dan menyebutnya sebagai ALaDin yang merupakan singkatan dari Air Laut Dingin. Dalam istilah oseanografi, ALaDin sebenarnya merupakan fenomena upwelling yang merujuk pada proses naiknya massa air laut dalam yang dingin ke permukaan.
Berbeda dengan upwelling biasa yang dibangkitkan oleh angin, ALaDin merupakan upwelling ekstrim yang dibangkitkan oleh arus pasang yang berinteraksi dengan topografi dasar laut Selat Pantar yang unik sehingga ALaDin hanya akan terjadi pada kondisi pasang purnama dan terisolasi di Perairan Desa Alor Kecil.
Selain terkait dengan mekanisme pembangkitnya, hal yang luar biasa dari ALaDin adalah dampaknya. Saat ALaDin terjadi, dinginnya air laut yang datang secara tiba-tiba akan membuat ikan-ikan pingsan sehingga menarik kumpulan lumba-lumba untuk datang dan memangsa. Oleh karena itu, kejadian unik ini sangat menarik minat masyarakat untuk datang dan menikmati sensasi air dingin di tengah udara alor yang panas, menangkap ikan-ikan yang pingsan dengan alat seadanya maupun melihat atraksi lumba-lumba hanya dari bibir pantai.
Kendala terbesar mengapa fenomena unik ini belum dapat termanfaatkan adalah karena kemunculannya yang singkat dan tiba-tiba sehingga tidak dapat dikelola dan hanya dapat dinikmati oleh warga lokal, akibatnya tidak ada manfaat ekonomi yang didapat. Jadi penduduk sekitar justru yang menjadi penikmat ALaDin. Ke depan, paradigma ini harus diubah, yang menjadi penikmat ALaDin seharusnya adalah para wisatawan. Sedangkan penduduk lokal harus menjadi penyedia fasilitas bagi para wisatawan dalam menikmati fenomena ALaDin agar mendapatkan manfaat ekonomi. Untuk dapat mewujudkan itu semua, peramalan yang tepat dan pemantauan yang kontinyu dan realtime menjadi kunci untuk dapat mengembangkan kejadian ALaDin di perairan Alor Kecil menjadi event wisata.
Di sisi yang lain, melalui Rencana Pembanguan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Alor 2025-2029, Pemerintah Kabupaten Alor telah menetapkan 3 sektor prioritas yang disebut sebagai “TRI PALAWA” atau tiga sektor unggulan Ekonomi Daerah (Pertanian, Kelautan dan Pariwisata). Untuk sektor pariwisata sendiri akan dilakukan percepatan pengembangan pariwisata melalui program Pekan Wismaraya (Wisata Maju Rakyat Sejahtera) yang merupakan integrasi event wisata di Kabupaten Alor. Untuk mensukseskan Pekan Wismaraya, Pemkab Alor akan menjadikan ALaDin sebagai ikon pariwisata baru yang akan dikemas dalam suatu event wisata.
Melalui Program Hilirisasi Riset Sinergi Strategis dengan pendanaan LPDP tahun 2026, Tim peneliti UNDIP dan Universitas Tribuana Kalabahi (UNTRIB) yang merupakan universitas lokal akan berkolaborasi dengan Pemkab. Alor untuk dapat mewujudkan potensi wisata ALaDin. Tim UNDIP akan menyiapkan teknologi SI ALaDin yaitu Sistem Monitoring IoT dan Peramalan ALaDin. Teknologi ini akan memudahkan masyarakat dan stake holder untuk dapat memantau dan mengetahui peramalan kejadian ALaDin dari gawainya masing-masing. Karena gaya pembangkit ALaDin adalah pasang surut, dan pasang surut adalah fenomena oseanografi yang predictable karena sifatnya yang periodik, maka ALaDin juga dapat diramalkan.
Peramalan kejadian ALaDin ini didasarkan pada hubungan antara suhu permukaan laut dengan pasang surut. Metode ini terbukti tepat meramalkan kejadian ALaDin di tahun 2023-2025. Tim UNTRIB akan berfokus pada peningkatan kapasitas masyarakat Desa Alor Kecil agar siap menjadi penyedia jasa wisata berbasis ALaDin. Dengan pendekatan partisipatif, berbasis kearifan lokal, dan berorientasi pariwisata berkelanjutan, kegiatan ini diharapkan mampu menciptakan produk unggulan Desa Alor Kecil yang berdaya saing dan berkelanjutan sesuai dengan prinsip blue economy.
Selain itu, masyarakat juga akan dilatih untuk dapat menyiapkan fasilitas untuk wisatawan selama event ALaDin sebagai bentuk community based tourism. Dengan peramalan yang akurat dan kesiapan masyarakat, Pemkab Alor berkomitment untuk memanfaatkan fenomena ALaDin di perairan Desa Alor Kecil melalui penyelenggaraan Festival ALaDin di bawah payung program Wismaraya di bulan September 2026. Adanya Festival ALaDin ini diharapkan dapat menarik minat wisatawan baik dalam dan luar negri karena keunikannya sehingga dapat menjadi event wisata andalan yang dapat meningkatkan pendapatan daerah Kab. Alor.
Sebagai penutup, Prof. Anindya menaruh harapan besar bahwa di masa yang akan datang, Festival ALaDin tidak hanya akan menjadi ikon wisata Kab. Alor tetapi menjadi ikon wisata Indonesia karena keunikannya. Jika Labuhan Bajo bisa mendunia karena memiliki komodo, kadal raksasa satu-satunya di dunia, Alor juga bisa karena memiliki ALaDin yang juga satu-satunya di dunia. Selain itu penyelenggaraan Festival ALaDin juga dapat menjadi ikon baru Undip karena merupakan implementasi nyata dari tagline Undip bermartabat dan bermanfaat sejalan dengan PIP Undip, Coastal Region Eco-Development. (Komunikaai Publik/UNDIP)

The post Teliti Fenomena Air Laut Dingin (ALaDin) Satu-satunya di Dunia, Dosen FPIK UNDIP Temukan Potensi Wisata Baru di Kab. Alor appeared first on Universitas Diponegoro.
Sumber: Universitas Diponegoro
admin adalah kontributor di BeritaDua. Artikel ini diterbitkan pada 03 July 2026.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Tinggalkan Komentar