Friday, 03 July 2026
CariTentang

Tinggalkan Amerika, Bangun Peternakan Babi

Ni Ketut Nenik Suryanadi, 35, mengatakan sebelum terjun ke dunia peternakan, dia sempat bekerja di Amerika Serikat selama lebih dari dua tahun dan empat tahun di perusahaan telekomunikasi. Pengalaman bekerja di luar negeri menjadi bekal untuk membangun peternakan dengan pola manajemen modern.“Awalnya kami memelihara babi secara tradisional. Setelah belajar, kami beralih ke sistem modern karena hasilnya jauh lebih efektif untuk pertumbuhan ternak,” ujar Nenik saat ditemui di peternakannya, belum lama ini.Perubahan sistem menjadi titik balik perkembangan usahanya. Dari tiga indukan, populasi ternak terus bertambah hingga kini mencapai 55 ekor indukan dan 200 ekor babi penggemukan. Kandang dirancang menggunakan sistem baterai dan koloni. Pada kandang baterai, setiap babi ditempatkan di satu petak sehingga pergerakannya lebih terbatas dan energinya lebih banyak digunakan untuk pertumbuhan bobot.“Hasilnya, babi siap panen mampu mencapai bobot ideal sekitar 120 kilogram,” urai Nenik.Menariknya, kualitas daging menjadi nilai jual utama di peternakan bernama Candi Kusuma Pinatih Farm. Rahasianya terletak pada pakan yang diproduksi sendiri dengan formulasi berbeda untuk setiap fase pertumbuhan, mulai dari anak babi, indukan, hingga penggemukan. Selain menjual babi hidup, peternakan itu juga melayani penjualan babi bersih dan menjadi pemasok utama bagi sejumlah pelaku usaha babi guling di Bali. Namun, dia enggan membeberkan omzet yang didapatkan.“Permintaan rutin datang dari kebutuhan upacara adat, piodalan, rumah makan hingga pelaku usaha kuliner,” rinci perempuan yang gemar olahraga ekstrem dan motor trail ini.Pasarnya bahkan sudah menjangkau luar Bali. Nenik mengungkapkan, pihaknya pernah mengirim 40-50 ekor babi hidup maupun karkas dalam satu kali pengiriman ke Manado dan Medan. Menurutnya, pembeli memilih peternakannya karena kualitas daging yang seimbang antara daging dan lemak.Meski usahanya terus berkembang, Nenik mengakui bisnis peternakan babi tidak selalu berjalan mulus. Fluktuasi harga pakan yang sering naik, sementara harga jual babi tidak menentu, menjadi tantangan terbesar yang dihadapi peternak.“Harga pakan naik, tetapi harga babi justru bisa turun. Sampai sekarang belum ada patokan harga yang jelas, sehingga peternak sering berada di posisi yang sulit,” ungkapnya.Selain persoalan harga, dia juga berharap pemerintah memberi perhatian lebih kepada peternak babi, terutama saat terjadi serangan African Swine Fever (ASF). Menurutnya, banyak peternak kehilangan modal akibat wabah tersebut, tetapi dukungan berupa obat maupun penanganannya masih sangat minim.Nenik juga berharap pemerintah dapat membuka akses pasar yang lebih luas, termasuk peluang ekspor, sehingga peternak lokal tidak hanya mengandalkan pasar dalam negeri.“Harapan kami, peternak babi di Bali khususnya di Badung bisa diperhatikan oleh pemerintah. Harusnya ada harga ideal ketika babi banyak, sehingga peternak tidak rugi. Selain itu, kami juga berharap bisa naik kelas dan mampu bersaing, bukan hanya di level nasional, tapi juga pasar internasional,” pungkasnya. *dar

Sumber: Nusa Bali

a
admin⏱ 3 menit baca

admin adalah kontributor di BeritaDua. Artikel ini diterbitkan pada 03 July 2026.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tinggalkan Komentar