Populer: Ojol Bisa Akses Rumah Subsidi; KEK Diminati Investor
Ojol menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Jumat (3/7). Selain itu, KEK. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman berita populer tersebut:
Ojol Bisa Akses Rumah Subsidi dengan DP 0%
Pekerja sektor informal, khususnya pengemudi ojek online (ojol), kini memiliki akses lebih luas terhadap program rumah subsidi melalui skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Sejahtera Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dengan uang muka 0 persen.
Inisiatif ini merupakan hasil kerja sama antara BP Tapera dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo), yang bertujuan memperluas kepemilikan rumah pertama bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).
Program ini menunjukkan keberpihakan pemerintah kepada pekerja informal, meskipun proses verifikasi dan penilaian kelayakan akan dilakukan secara ketat untuk memastikan bantuan pembiayaan tepat sasaran.
Persyaratan yang akan diverifikasi meliputi usia 21-45 tahun, tingkat penyelesaian perjalanan (trip), jam aktif, serta kriteria MBR dan belum pernah memiliki rumah.
Kolaborasi ini juga didukung oleh penyesuaian ketentuan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang semakin membuka peluang akses pembiayaan perumahan.
Hingga 2 Juli 2026, BP Tapera mencatat penyaluran FLPP telah mencapai 93.339 unit rumah dengan nilai pembiayaan mencapai Rp 11,60 triliun.
Data ini menunjukkan bahwa kelompok pekerja swasta mendominasi dengan 61.126 unit (65,49 persen), diikuti wiraswasta 15.890 unit (17,02 persen), Pegawai Negeri Sipil (PNS) 7.643 unit (8,19 persen), dan TNI/Polri 1.394 unit (1,49 persen).
Investor UEA hingga AS Antre Investasi di KEK, Sejumlah Kawasan Minta Perluasan
Daya tarik Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Indonesia semakin menguat, terbukti dari tingginya minat investor, termasuk dari Uni Emirat Arab (UEA) dan Amerika Serikat.
Kondisi ini menyebabkan sejumlah pengelola KEK mengajukan perluasan lahan, seringkali mencapai dua kali lipat dari ukuran semula, karena kapasitas kawasan yang ada telah terisi penuh.
Fenomena ini menunjukkan keberhasilan KEK dalam menarik investasi baru, khususnya di sektor manufaktur dan digital.
Sebagai contoh, KEK Kendal yang menampung sekitar 140 industri di lahan 1.000 hektare kini telah penuh dan mengajukan penambahan 1.000 hektare lagi.
Hal serupa terjadi di KEK Gresik. Sementara itu, KEK Galang Batang di Kepulauan Riau, yang berfokus pada hilirisasi bauksit dan alumina, mengusulkan perluasan signifikan hingga 2.700 hektare untuk mengakomodasi investasi di sektor smelter dan industri hilir aluminium.
Pemerintah juga agresif mendorong pengembangan KEK yang berfokus pada industri data center, seiring dengan meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital dan kecerdasan buatan (AI).
KEK Nongsa Digital Park di Batam, misalnya, telah menjadi rumah bagi lebih dari 10 perusahaan data center berskala global. Kapasitas pusat data nasional saat ini sekitar 600 megawatt, namun rencana investasi besar seperti dari grup DAMAC asal UEA yang mencapai 1,2 hingga 1,3 gigawatt mengindikasikan potensi pertumbuhan signifikan bernilai miliaran dolar AS.
Sumber: Kumparan Musik
admin adalah kontributor di BeritaDua. Artikel ini diterbitkan pada 04 July 2026.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Tinggalkan Komentar