Anjing Jadi Instrumen Pendeteksi, Selamatkan 957 Satwa dari Perdagangan Ilegal
BANDAR LAMPUNG – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terus memperkuat upaya pemberantasan perdagangan ilegal tumbuhan dan satwa liar melalui Program Wildlife Detection Dog (WDD) atau Anjing pendeteksi Satwa Liar.
Program tersebut dijalankan bersama Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia dan perusahaan logistik global CMA CGM Group.
Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan Ahmad Munawir mengatakan perlindungan tumbuhan dan satwa liar membutuhkan pengawasan yang dilakukan secara kolaboratif, terintegrasi, serta berbasis risiko.
Menurutnya, jalur logistik menjadi salah satu titik rawan yang kerap dimanfaatkan dalam praktik perdagangan ilegal satwa liar sehingga membutuhkan pengawasan yang lebih ketat.
"Kerja sama ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat pencegahan, deteksi dini, dan penanganan perdagangan ilegal tumbuhan maupun satwa liar," kata Ahmad Munawir di Bandarlampung, Kamis.
Ia menjelaskan, Program WDD menjadi instrumen yang efektif dalam mendukung pengawasan di lapangan. Dukungan unit K9, peningkatan kapasitas petugas, serta sinergi lintas sektor diharapkan mampu meningkatkan kecepatan dan ketepatan penindakan terhadap kejahatan satwa liar.
Selain itu, model kerja sama tersebut diharapkan dapat diterapkan di berbagai daerah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap perdagangan ilegal, sehingga mampu memperkuat perlindungan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan.
Kementerian Kehutanan bersama WCS Indonesia dan CMA CGM menggelar kegiatan di Bandarlampung untuk memaparkan capaian kolaborasi sejak dimulai pada 2024.
Kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke fasilitas Anjing Pendeteksi Satwa Liar di Kalianda, Lampung Selatan, yang menjadi pusat pelatihan anjing pelacak untuk mendeteksi satwa maupun produk turunannya yang disembunyikan di dalam kargo.
Selama program berlangsung, kemitraan tersebut telah melakukan penilaian kerentanan di sejumlah pelabuhan, melatih 127 personel dari berbagai instansi, serta mengerahkan unit K9 dalam 39 operasi gabungan bersama aparat penegak hukum.
Dari operasi tersebut, sebanyak 957 ekor satwa liar berhasil diselamatkan dari jaringan perdagangan ilegal. Satwa yang diamankan di antaranya burung kipasan belang, cica daun sayap biru, hingga elang brontok. Sebanyak 770 ekor di antaranya telah dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya.
Senior Manager Program Wildlife Trade and Policy WCS Indonesia, Sofi Mardiah, mengatakan pengalaman selama satu tahun terakhir menunjukkan bahwa perlindungan satwa liar harus berjalan seiring dengan pengamanan rantai pasok logistik.
Menurutnya, Program Wildlife Detection Dog membuktikan pentingnya deteksi dini di titik-titik distribusi serta menunjukkan komitmen sektor swasta dalam mencegah rantai logistik dimanfaatkan untuk perdagangan satwa liar.
Sementara itu, Presiden Direktur CMA CGM Indonesia Ikram Ghazali menegaskan perusahaan memiliki tanggung jawab untuk memastikan jaringan logistik tidak digunakan dalam aktivitas ilegal.
Ia menyatakan kolaborasi dengan Kementerian Kehutanan dan WCS Indonesia merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam memperkuat sistem keamanan rantai pasok sekaligus mendukung pelestarian keanekaragaman hayati melalui solusi nyata, termasuk pemanfaatan anjing pendeteksi satwa liar. (*)
Sumber: Radar Lampung Musik
admin adalah kontributor di BeritaDua. Artikel ini diterbitkan pada 04 July 2026.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Tinggalkan Komentar