Etnografi Pengasuhan: Desensitisasi Kekerasan Verbal terhadap Anak
Pernah dengar kalimat seperti "Kamu memang bodoh ya!", "Diam, jangan cerewet!", atau "Coba lihat anak tetangga, kok kamu nggak bisa seperti dia?" Bagi sebagian orang tua, kalimat-kalimat ini terasa biasa saja, sekadar luapan emosi sesaat ketika anak rewel atau membuat kesalahan. Tapi bagi anak yang mendengarnya, kata-kata itu bisa menancap jauh lebih dalam daripada yang dibayangkan orang dewasa.
Inilah yang disebut kekerasan verbal: tindakan menyakiti anak lewat kata-kata, tanpa harus menyentuh fisiknya sama sekali. Bentuknya bisa berupa bentakan, ejekan, ancaman, hinaan, julukan yang merendahkan, atau perbandingan yang membuat anak merasa tidak berharga. Karena tidak meninggalkan bekas memar atau luka yang kelihatan, jenis kekerasan ini sering dianggap "tidak terlalu serius". Padahal, dampaknya bisa jauh lebih lama bertahan dibanding luka fisik.
Data yang Mengkhawatirkan dari Indonesia
Ternyata, kekerasan verbal pada anak bukan kasus langka di Indonesia. Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 yang dirilis Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menemukan bahwa kekerasan emosional, termasuk kekerasan verbal, justru menjadi bentuk kekerasan yang paling banyak dialami anak usia 13-17 tahun, lebih tinggi dibanding kekerasan fisik maupun seksual.
Angkanya cukup mengejutkan. Hampir separuh dari anak usia remaja, sekitar 45 dari 100 anak laki-laki dan perempuan, pernah mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan emosional sepanjang hidupnya. Bahkan dalam setahun terakhir saja, sekitar 30 dari 100 anak masih mengalaminya. Yang lebih mengkhawatirkan, angka ini justru naik dibandingkan survei serupa pada 2021, padahal jenis kekerasan fisik pada periode yang sama tercatat menurun.
Memang, dalam survei tersebut teman sebaya tercatat sebagai pelaku paling umum. Namun bentuk kekerasan emosional yang berasal dari rumah juga teridentifikasi jelas, seperti dikatakan tidak pantas disayang, dibilang bodoh, dibentak, diancam, hingga dianggap sebagai anak yang tidak diharapkan kelahirannya. Kalimat-kalimat semacam ini sering keluar justru dari orang yang seharusnya menjadi tempat anak merasa paling aman, yaitu orang tua sendiri.
Data lain dari Kemen PPPA menunjukkan total korban kekerasan terhadap anak di Indonesia sepanjang 2025 mencapai 18.123 anak, dengan mayoritas korban adalah anak perempuan. Sementara di lingkungan sekolah, jumlah kasus kekerasan yang tercatat KPAI dan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia melonjak dari 285 kasus pada 2023 menjadi 573 kasus pada 2024, naik lebih dari dua kali lipat dalam setahun, dengan sepertiganya berkaitan langsung dengan perundungan.
Mengapa Kata-kata Bisa Melukai Sedalam Itu
Otak anak, terutama di usia dini, masih dalam proses berkembang dan sangat sensitif terhadap cara ia diperlakukan oleh orang-orang terdekatnya. Sejumlah penelitian di Indonesia, termasuk studi yang dilakukan terhadap anak usia dini di Bali, menemukan adanya hubungan antara kekerasan verbal dari orang tua dengan terhambatnya perkembangan kognitif anak. Anak yang terus-menerus mendengar kata-kata kasar cenderung mengalami kesulitan berpikir jernih, sulit berkonsentrasi, dan kurang percaya diri dalam mengambil keputusan.
Dampaknya tidak berhenti di situ. Anak yang sering menjadi sasaran kekerasan verbal cenderung meniru pola yang ia terima. Ia bisa menjadi lebih agresif terhadap teman-temannya, lebih suka menyendiri, atau justru kehilangan rasa percaya diri sehingga menarik diri dari pergaulan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mencatat bahwa kekerasan emosional pada masa kanak-kanak berkaitan dengan risiko penyalahgunaan zat, depresi, dan gangguan kecemasan di kemudian hari.
Ada satu pelajaran sederhana namun dalam yang relevan di sini: anak yang dibesarkan dengan banyak celaan, besar kemungkinan akan tumbuh menjadi orang yang juga mudah mencela orang lain. Pola asuh yang penuh kata-kata kasar bukan hanya menyakiti anak hari ini, tapi juga ikut membentuk caranya memandang dan memperlakukan dunia di masa depan.
Mengapa Orang Tua Sampai Melakukannya
Banyak orang tua sebenarnya tidak bermaksud menyakiti anak. Kekerasan verbal sering muncul dari rasa lelah, stres, tekanan ekonomi, atau bahkan karena pola asuh keras yang dulu mereka terima sendiri dari orang tuanya, lalu tanpa sadar diulang. Sebagian lagi menganggap bentakan atau ejekan sebagai cara mendisiplinkan anak agar lebih cepat menurut. Padahal cara ini justru bisa membuat anak menurut karena takut, bukan karena memahami kesalahannya.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Kabar baiknya, pola ini bisa diputus. Beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba orang tua:
Pertama, kenali emosi sendiri sebelum bereaksi. Saat marah, beri jeda sejenak sebelum berbicara kepada anak, agar kata-kata yang keluar tidak didorong oleh amarah sesaat.
Kedua, tanyakan dulu sebelum menghakimi. Saat anak melakukan kesalahan, coba pahami alasannya terlebih dahulu, bukan langsung melontarkan label seperti "bodoh" atau "nakal".
Ketiga, fokus pada perilaku, bukan pada diri anak. Mengatakan "tindakan itu kurang tepat" jauh berbeda dampaknya dibanding mengatakan "kamu memang selalu bikin masalah".
Keempat, jika sudah terlanjur membentak atau mengucapkan kata yang menyakitkan, jangan ragu untuk meminta maaf kepada anak. Permintaan maaf yang tulus justru mengajarkan anak bahwa kesalahan bisa diperbaiki, dan hubungan tetap bisa pulih.
Kelima, cari dukungan jika merasa kewalahan. Komunitas parenting, tenaga psikolog, atau layanan dari Kemen PPPA dapat menjadi tempat belajar mengelola pola asuh dengan lebih sehat.
Akibat Kekerasan Verbal
Luka akibat kekerasan verbal memang tidak terlihat di permukaan kulit, tapi sering kali membekas jauh lebih lama di dalam pikiran dan perasaan anak. Data dari berbagai survei nasional menunjukkan bahwa persoalan ini nyata dan masih terus terjadi di sekeliling kita, baik di rumah maupun di sekolah. Mengubah cara berbicara kepada anak bukan hal yang instan, tapi setiap usaha kecil untuk lebih sadar dalam memilih kata, adalah langkah nyata untuk memastikan anak-anak Indonesia tumbuh dengan rasa aman, bukan rasa takut.
Sumber: Kumparan Tekno
admin adalah kontributor di BeritaDua. Artikel ini diterbitkan pada 04 July 2026.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Tinggalkan Komentar