Friday, 03 July 2026
CariTentang

Etnografi Pengasuhan: Desensitisasi Kekerasan Verbal terhadap Anak

Daftar Isi
  1. Data yang Mengkhawatirkan dari Indonesia
  2. Mengapa Kata-kata Bisa Melukai Sedalam Itu
  3. Mengapa Orang Tua Sampai Melakukannya
  4. Apa yang Bisa Dilakukan?‎
  5. Akibat Kekerasan Verbal
Ilustrasi tindakan verbal kepada anak. www.unsplash.com

Pernah dengar kalimat seperti "Kamu memang bodoh ya!", "Diam, jangan cerewet!", atau ‎‎"Coba lihat anak tetangga, kok kamu nggak bisa seperti dia?" Bagi sebagian orang tua, ‎kalimat-kalimat ini terasa biasa saja, sekadar luapan emosi sesaat ketika anak rewel atau ‎membuat kesalahan. Tapi bagi anak yang mendengarnya, kata-kata itu bisa menancap jauh ‎lebih dalam daripada yang dibayangkan orang dewasa.‎

Inilah yang disebut kekerasan verbal: tindakan menyakiti anak lewat kata-kata, tanpa harus ‎menyentuh fisiknya sama sekali. Bentuknya bisa berupa bentakan, ejekan, ancaman, hinaan, ‎julukan yang merendahkan, atau perbandingan yang membuat anak merasa tidak berharga. ‎Karena tidak meninggalkan bekas memar atau luka yang kelihatan, jenis kekerasan ini sering ‎dianggap "tidak terlalu serius". Padahal, dampaknya bisa jauh lebih lama bertahan dibanding ‎luka fisik.‎

Data yang Mengkhawatirkan dari Indonesia

Ternyata, kekerasan verbal pada anak bukan kasus langka di Indonesia. Survei Nasional ‎Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 yang dirilis Kementerian ‎Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menemukan bahwa ‎kekerasan emosional, termasuk kekerasan verbal, justru menjadi bentuk kekerasan yang ‎paling banyak dialami anak usia 13-17 tahun, lebih tinggi dibanding kekerasan fisik maupun ‎seksual.‎

Angkanya cukup mengejutkan. Hampir separuh dari anak usia remaja, sekitar 45 dari 100 ‎anak laki-laki dan perempuan, pernah mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan ‎emosional sepanjang hidupnya. Bahkan dalam setahun terakhir saja, sekitar 30 dari 100 ‎anak masih mengalaminya. Yang lebih mengkhawatirkan, angka ini justru naik dibandingkan ‎survei serupa pada 2021, padahal jenis kekerasan fisik pada periode yang sama tercatat ‎menurun.‎

Memang, dalam survei tersebut teman sebaya tercatat sebagai pelaku paling umum. Namun ‎bentuk kekerasan emosional yang berasal dari rumah juga teridentifikasi jelas, seperti ‎dikatakan tidak pantas disayang, dibilang bodoh, dibentak, diancam, hingga dianggap ‎sebagai anak yang tidak diharapkan kelahirannya. Kalimat-kalimat semacam ini sering keluar ‎justru dari orang yang seharusnya menjadi tempat anak merasa paling aman, yaitu orang tua ‎sendiri.‎

Data lain dari Kemen PPPA menunjukkan total korban kekerasan terhadap anak di Indonesia ‎sepanjang 2025 mencapai 18.123 anak, dengan mayoritas korban adalah anak perempuan. ‎Sementara di lingkungan sekolah, jumlah kasus kekerasan yang tercatat KPAI dan Jaringan ‎Pemantau Pendidikan Indonesia melonjak dari 285 kasus pada 2023 menjadi 573 kasus pada ‎‎2024, naik lebih dari dua kali lipat dalam setahun, dengan sepertiganya berkaitan langsung ‎dengan perundungan.‎

Mengapa Kata-kata Bisa Melukai Sedalam Itu

Otak anak, terutama di usia dini, masih dalam proses berkembang dan sangat sensitif ‎terhadap cara ia diperlakukan oleh orang-orang terdekatnya. Sejumlah penelitian di ‎Indonesia, termasuk studi yang dilakukan terhadap anak usia dini di Bali, menemukan ‎adanya hubungan antara kekerasan verbal dari orang tua dengan terhambatnya ‎perkembangan kognitif anak. Anak yang terus-menerus mendengar kata-kata kasar ‎cenderung mengalami kesulitan berpikir jernih, sulit berkonsentrasi, dan kurang percaya diri ‎dalam mengambil keputusan.‎

Dampaknya tidak berhenti di situ. Anak yang sering menjadi sasaran kekerasan verbal ‎cenderung meniru pola yang ia terima. Ia bisa menjadi lebih agresif terhadap teman-‎temannya, lebih suka menyendiri, atau justru kehilangan rasa percaya diri sehingga menarik ‎diri dari pergaulan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mencatat bahwa kekerasan ‎emosional pada masa kanak-kanak berkaitan dengan risiko penyalahgunaan zat, depresi, ‎dan gangguan kecemasan di kemudian hari.‎

Ada satu pelajaran sederhana namun dalam yang relevan di sini: anak yang dibesarkan ‎dengan banyak celaan, besar kemungkinan akan tumbuh menjadi orang yang juga mudah ‎mencela orang lain. Pola asuh yang penuh kata-kata kasar bukan hanya menyakiti anak hari ‎ini, tapi juga ikut membentuk caranya memandang dan memperlakukan dunia di masa ‎depan.‎

Mengapa Orang Tua Sampai Melakukannya

Banyak orang tua sebenarnya tidak bermaksud menyakiti anak. Kekerasan verbal sering ‎muncul dari rasa lelah, stres, tekanan ekonomi, atau bahkan karena pola asuh keras yang ‎dulu mereka terima sendiri dari orang tuanya, lalu tanpa sadar diulang. Sebagian lagi ‎menganggap bentakan atau ejekan sebagai cara mendisiplinkan anak agar lebih cepat ‎menurut. Padahal cara ini justru bisa membuat anak menurut karena takut, bukan karena ‎memahami kesalahannya.‎

Apa yang Bisa Dilakukan?‎

Kabar baiknya, pola ini bisa diputus. Beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba orang ‎tua:‎

Pertama, kenali emosi sendiri sebelum bereaksi. Saat marah, beri jeda sejenak sebelum ‎berbicara kepada anak, agar kata-kata yang keluar tidak didorong oleh amarah sesaat.‎

Kedua, tanyakan dulu sebelum menghakimi. Saat anak melakukan kesalahan, coba pahami ‎alasannya terlebih dahulu, bukan langsung melontarkan label seperti "bodoh" atau "nakal".‎

Ketiga, fokus pada perilaku, bukan pada diri anak. Mengatakan "tindakan itu kurang tepat" ‎jauh berbeda dampaknya dibanding mengatakan "kamu memang selalu bikin masalah".‎

Keempat, jika sudah terlanjur membentak atau mengucapkan kata yang menyakitkan, ‎jangan ragu untuk meminta maaf kepada anak. Permintaan maaf yang tulus justru ‎mengajarkan anak bahwa kesalahan bisa diperbaiki, dan hubungan tetap bisa pulih.‎

Kelima, cari dukungan jika merasa kewalahan. Komunitas parenting, tenaga psikolog, atau ‎layanan dari Kemen PPPA dapat menjadi tempat belajar mengelola pola asuh dengan lebih ‎sehat.‎

Akibat Kekerasan Verbal

Luka akibat kekerasan verbal memang tidak terlihat di permukaan kulit, tapi sering kali ‎membekas jauh lebih lama di dalam pikiran dan perasaan anak. Data dari berbagai survei ‎nasional menunjukkan bahwa persoalan ini nyata dan masih terus terjadi di sekeliling kita, ‎baik di rumah maupun di sekolah. Mengubah cara berbicara kepada anak bukan hal yang ‎instan, tapi setiap usaha kecil untuk lebih sadar dalam memilih kata, adalah langkah nyata ‎untuk memastikan anak-anak Indonesia tumbuh dengan rasa aman, bukan rasa takut.‎

Sumber: Kumparan Tekno

a
admin⏱ 5 menit baca

admin adalah kontributor di BeritaDua. Artikel ini diterbitkan pada 04 July 2026.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tinggalkan Komentar