Friday, 03 July 2026
CariTentang

10 Cara Berbakti kepada Ibu Menurut Islam, Terinspirasi Momen Haru Timnas Maroko di Piala Dunia 2026

Daftar Isi
  1. Ketika Stadion Menjadi Ruang Pengabdian
  2. Kedudukan Ibu: Tiga Kali Lebih Mulia
  3. 10 Cara Berbakti kepada Ibu Menurut Tuntunan Islam
  4. Paradoks Modern: Sukses Dunia vs Restu Langit
  5. Menutup Mata, Membuka Hati

Ribuan pasang mata di stadion dan jutaan lainnya di layar kaca menahan haru menyaksikan pemain Timnas Maroko berlari kecil ke tepi tribun, bukan untuk merayakan gol semata, melainkan untuk mencium tangan dan memeluk seorang wanita paruh baya berhijab. Adegan yang menjadi tradisi dalam perjalanan mereka di Piala Dunia 2026 itu bukan sekadar gestur kasih sayang biasa; ia adalah manifesto hidup dari salah satu ajaran paling fundamental dalam Islam: berbakti kepada ibu.

Ketika Stadion Menjadi Ruang Pengabdian

Fenomena pemain Maroko yang kerap menghampiri ibunya seusai pertandingan telah menjadi sorotan media global. Di tengah gemerlap industri sepak bola modern yang kerap identik dengan hedonisme, skuad "Singa Atlas" justru menyuguhkan potret keteladanan. Mereka membuktikan bahwa setinggi apa pun prestasi duniawi, cinta dan hormat kepada ibu tetap menjadi prioritas utama. Momen ini bukanlah sekadar strategi pencitraan, melainkan cerminan autentik dari budaya Timur Tengah dan Afrika Utara yang kental dengan nilai-nilai Islam, di mana restu dan ridha ibu diyakini sebagai kunci keberhasilan.

Kedudukan Ibu: Tiga Kali Lebih Mulia

Dalam Islam, posisi orang tua, khususnya ibu, dijunjung sedemikian tinggi melampaui hubungan sosial lainnya. Pandangan ini didasarkan pada pengorbanan biologis dan emosional yang tidak dapat dibalas dengan materi. Salah satu hadis paling masyhur yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah menggambarkan hierarki pergaulan manusia dengan begitu jelas. Ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW tentang siapa yang paling berhak mendapatkan perlakuan terbaik, jawaban itu menjadi pedoman abadi:

"Ibumu." Lelaki itu bertanya lagi, "Lalu siapa?" Rasul menjawab, "Ibumu." Pertanyaan berlanjut, "Lalu siapa?" Kembali Rasul menjawab, "Ibumu." Setelah itu barulah beliau bersabda, "Kemudian ayahmu."

Dialog ini menegaskan bahwa kelelahan fisik seorang ibu—mengandung dengan segala kelemahannya, melahirkan dengan taruhan nyawa, menyusui, dan mendidik hingga dewasa—adalah utang budi yang pahalanya setara dengan jihad. Tak heran jika para ulama sering mengaitkan kesuksesan seorang anak dengan doa yang dipanjatkan oleh ibunya di sepertiga malam.

10 Cara Berbakti kepada Ibu Menurut Tuntunan Islam

Terinspirasi dari kesederhanaan sikap para pemain Maroko yang tidak malu menunjukkan afeksi di depan kamera internasional, berikut adalah sepuluh implementasi birrul walidain (berbakti kepada orang tua) yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari:

  • Bertutur Kata dengan Ucapan Mulia (Qaulan Karima). Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Isra ayat 23, seorang anak dilarang berkata "ah" atau membentak. Ucapan harus senantiasa lembut, penuh penghormatan, dan merendahkan nada suara.
  • Merendahkan Diri dengan Penuh Kasih Sayang. Sikap tawadhu' atau rendah hati bukan hanya di hadapan Allah, tetapi juga di hadapan ibu. Merendahkan "sayap kerendahan" berarti tidak berlagak sombong karena merasa lebih pintar, lebih sukses, atau lebih modern dari ibu.
  • Mendoakan di Setiap Waktu. Doa terbaik adalah doa yang dipanjatkan secara diam-diam. Lafalkan "Rabbighfirli wa liwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira" (Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil).
  • Membangahagiakan dengan Senyuman. Menebar senyum tulus di hadapan ibu adalah sedekah sekaligus obat penawar lelahnya. Gestur ini lebih bernilai daripada kado mahal.
  • Tidak Duduk Sebelum Ibu Duduk atau Membiarkan Ibu Berdiri. Etika ini mengajarkan prioritas. Dalam Majelis, pastikan ibu telah mendapatkan tempat yang paling nyaman.
  • Mendahulukan Keinginan Ibu dari Kepentingan Pribadi. Ketika ada benturan jadwal antara kepentingan bisnis, pertemanan, atau istirahat dengan permintaan ibu, dahulukan permintaan ibu selama bukan dalam perkara maksiat.
  • Menenangkan Hati dengan Menjauhi Pertengkaran. Jika ibu marah atau salah paham, instruksi Nabi adalah diam. Jangan melawan atau mendebat dengan logika yang menyakitkan. Sebaliknya, gunakan momen lain yang lebih teduh untuk menjelaskan maksud dengan lembut.
  • Memberikan Pelayanan Fisik Terbaik. Memijat punggungnya yang mulai membungkuk, menyuapi ketika beliau sakit, atau sekadar memapahnya berjalan adalah bentuk pelayanan yang langsung menyentuh hati.
  • Mengunjungi dan Menjalin Silaturahmi. Jika tinggal berjauhan, kunjungan rutin atau panggilan video singkat mampu mengobati kerinduan. Rasulullah SAW menjamin bahwa menyambung silaturahmi akan memperpanjang umur dan meluaskan rezeki.
  • Menjaga Kehormatan Nama Baik Keluarga. Perbuatan maksiat dan tercela yang dilakukan seorang anak akan menghancurkan kehormatan ibu di lingkungan sosial. Menjaga diri adalah bentuk bakti yang abstrak namun signifikan.

Paradoks Modern: Sukses Dunia vs Restu Langit

Apa yang dilakukan oleh Achraf Hakimi, Hakim Ziyech, dan para punggawa Timnas Maroko membungkam stereotip bahwa "anak mama" adalah sosok lemah tak berdaya. Sebaliknya, mereka mendobrak panggung dunia dengan ketangguhan fisik dan mental sebagai atlet top, sembari tetap menangis haru di pelukan ibu. Ini membuktikan bahwa berbakti kepada ibu tidak menciptakan ketergantungan, melainkan melepaskan energi spiritual yang luar biasa. Mereka paham bahwa di balik setiap tendangan penalti yang menentukan, ada doa ibu yang lebih cepat menembus langit.

Di tengah krisis moral global, di mana banyak lansia terlantar di panti jompo karena dianggap merepotkan karier anak-anaknya, Islam menawarkan solusi preventif. Konsep berbakti dalam Islam bersifat resiprokal; ketika anak merawat ibu, sejatinya ia sedang menabung "asuransi" kemuliaan untuk masa tuanya kelak. Tak ada yang lebih menyakitkan daripada menjadi tua dan diabaikan oleh anak yang dulu ia timang dengan penuh cinta.

Menutup Mata, Membuka Hati

Piala Dunia 2026 mungkin akan segera berakhir dan trofi akan menjadi kenangan, namun citra para pemuda gagah berseragam merah-hijau yang mencium dahi ibunya akan terus menjadi jejak abadi. Dari lapangan hijau, umat manusia diajarkan kembali bahwa surga sejati bukanlah podium juara, melainkan di telapak kaki ibu. Selagi nafas masih berhembus dan beliau masih ada di sisi kita, masih ada waktu untuk mengejar ketertinggalan bakti. Jangan sampai penyesalan datang ketika jasad ibu telah terbujur kaku, dan kita hanya bisa menangisi tanah pusaranya karena kehilangan kesempatan untuk mencium tangannya yang hangat.

Sumber: kalam.sindonews.com

a
admin⏱ 5 menit baca

admin adalah kontributor di BeritaDua. Artikel ini diterbitkan pada 03 July 2026.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tinggalkan Komentar