15 Produk Inovatif Dosen Unhas Lolos Sertifikasi BPOM

Sebanyak 15 produk hasil riset dan inovasi dosen Universitas Hasanuddin (Unhas) resmi mengantongi izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Penyerahan sertifikat dilakukan dalam sebuah se...

15 Produk Inovatif Dosen Unhas Lolos Sertifikasi BPOM

Sebanyak 15 produk hasil riset dan inovasi dosen Universitas Hasanuddin (Unhas) resmi mengantongi izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Penyerahan sertifikat dilakukan dalam sebuah seremoni yang berlangsung di Makassar, Minggu (12/7), menandai babak baru hilirisasi penelitian kampus tersebut. Pencapaian ini bukan sekadar angka, melainkan bukti nyata bahwa karya intelektual akademisi mampu menembus standar ketat regulasi dan siap bersaing di pasar komersial.

Dari Laboratorium ke Pasar

Produk-produk yang kini telah bersertifikat BPOM merupakan hasil dari riset multidisiplin yang digarap selama bertahun-tahun oleh para dosen Unhas. Mereka mengembangkan beragam inovasi, mulai dari sediaan herbal terstandar, suplemen kesehatan, pangan fungsional berbasis sumber daya lokal Sulawesi, hingga kosmetik alami. Setiap produk lahir dari keinginan memecahkan masalah nyata di masyarakat sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas daerah. Proses pengembangan melibatkan serangkaian uji pra-klinis, pengujian stabilitas, dan pemeriksaan toksisitas internal sebelum akhirnya diajukan ke BPOM untuk mendapatkan nomor izin edar (NIE). Menurut Wakil Rektor bidang Riset dan Inovasi Unhas, keberhasilan ini adalah hasil dari kolaborasi erat antara peneliti, lembaga pendanaan, dan unit inkubator bisnis kampus yang memfasilitasi hilirisasi. "Kami tidak ingin riset hanya berakhir di jurnal. Dengan izin edar BPOM, produk ini bisa hadir di rak apotek dan swalayan, memberi manfaat langsung bagi kesehatan masyarakat," ujarnya di sela acara.

Standar Keamanan dan Mutu BPOM

Memperoleh izin edar dari BPOM bukan perkara mudah. Setiap produk melalui evaluasi ketat terhadap aspek keamanan, khasiat atau manfaat, serta mutu. Tim peneliti harus menyajikan data lengkap tentang komposisi, proses produksi yang mengikuti Cara Pembuatan yang Baik (CPOB untuk obat, CPMKB atau CPKB untuk suplemen dan kosmetik), dan hasil uji laboratorium. Untuk produk berbasis herbal, BPOM mensyaratkan identifikasi bahan baku secara botani, profil standarisasi ekstrak, hingga uji cemaran mikroba dan logam berat. Dengan telah terpenuhinya semua persyaratan ini, ke-15 produk Unhas kini memiliki legalitas yang membuka akses ke jaringan distribusi nasional, bahkan hingga ke pasar ekspor. Direktur Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM yang hadir dalam penyerahan sertifikat menegaskan bahwa pihaknya mengapresiasi langkah perguruan tinggi yang proaktif menjembatani riset ke produk jadi. "Ini memperkuat ekosistem kemandirian farmasi dan pangan nasional yang dimulai dari hulu, yaitu riset perguruan tinggi," katanya.

Dukungan Universitas dan Harapan ke Depan

Rektor Unhas, dalam sambutannya, menyatakan bahwa kampusnya akan terus mendorong dan memfasilitasi para dosen untuk melakukan terobosan riset yang aplikatif. Pendanaan dari program Matching Fund, Kedaireka, dan kerja sama industri disebut sebagai katalis utama yang membuat prototipe laboratorium bisa menjadi produk komersial. Ke depan, Unhas menargetkan lebih banyak lagi hasil riset yang bisa melalui gerbang regulasi serupa. Selain itu, universitas juga membuka kerja sama dengan calon mitra industri untuk mempercepat komersialisasi dan memperluas jangkauan pemasaran. Untuk 15 produk yang sudah mendapat NIE, langkah selanjutnya adalah menyiapkan fasilitas produksi yang tersertifikasi, menjalin kemitraan distribusi, dan melakukan edukasi pasar agar konsumen mengenal produk-produk inovasi lokal ini.

Dampak bagi Masyarakat dan Ekonomi Lokal

Keberhasilan 15 dosen Unhas membawa produknya ke tingkat siap edar tidak hanya berdampak pada reputasi akademik. Ia membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar. Beberapa produk memanfaatkan bahan baku dari petani dan kelompok tani lokal, seperti tanaman obat (jahe merah, temulawak, kelor), rumput laut, hasil perikanan, dan minyak atsiri. Dengan rantai pasok yang terstandar, para pemasok bahan baku ini akan memperoleh pendapatan yang lebih stabil. Selain itu, proses produksi juga berpotensi menyerap tenaga kerja lokal. Dari sisi konsumen, masyarakat kini memiliki alternatif produk kesehatan dan perawatan diri yang tidak hanya aman karena telah diawasi BPOM, tetapi juga membawa ciri khas dan potensi alam Sulawesi. Hal ini sejalan dengan gerakan cinta produk dalam negeri yang terus digaungkan pemerintah.

Secara keseluruhan, penyerahan sertifikat izin edar BPOM untuk 15 produk inovasi dosen Unhas menjadi momentum penting yang menegaskan bahwa riset akademik tidak lagi berhenti di publikasi. Dengan dukungan kebijakan dan ekosistem yang tepat, kampus bisa menjadi motor penggerak inovasi yang menghasilkan produk-produk unggul, aman, dan berkhasiat, siap bersaing di pasar nasional dan internasional.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User